Hukum Perayaan Ultah dan Hukum Mengucapkan Selamat Ultah



بسم الله الرّ حمن الرّ حيم
Hukum Perayaan Ultah dan Hukum Mengucapkan Selamat Ultah 

Bagaimana hukumnya mengucapkan selamat ulang tahun, adakah penggantinya yang lebih baik dari ucapan itu?
Rasyid Ariefiandy

Jawab:
Oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari
Berkaitan dengan masalah ini ada dua pembahasan:

Pertama, hukum perayaan ulang tahun itu sendiri.
Kedua, hukum mengucapkan selamat ulang tahun.
Permasalahan pertama telah dibahas oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dalam kitab al-Qaulul Mufid (1/382). Beliau mengatakan, “Setiap perkara yang dijadikan ‘ied atau perayaan berulang setiap pekan atau setiap tahun, dan tidak disyariatkan, maka itu termasuk perkara bid’ah.

Dalil yang menunjukkan bid’ahnya perayaan hari ulang tahun (kelahiran) adalah bahwa pembuat syariat ini, yaitu Allah subhanahu wata’ala, yang mewahyukannya kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan acara aqiqah untuk kelahiran seorang anak dan tidak menetapkan selain dari itu. Sedangkan kegiatan mereka merayakan hari-hari tersebut yang berulang setiap pekan atau setiap tahun berarti menyamakannya dengan hari raya Islam.

Padahal tidak ada dalam Islam kecuali tiga hari raya atau ‘ied yaitu ‘Iedul Fitri, ‘Iedul Adha, dan ‘Iedul Usbu’ (hari raya tiap pekan), yaitu hari Jum’at. Ini bukanlah perkara adat kebiasaan belaka, karena dilakukan berulang-ulang. Oleh karena itu, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di kota Madinah dan mendapati kaum Anshar merayakan dua ‘ied, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari raya yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Iedul Adha dan ‘Iedul Fitri.”1

Padahal kedua hari yang mereka rayakan itu merupakan perkara yang biasa bagi mereka.”

Begitu pula asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz telah berfatwa yang sama, kata beliau,
“Tidak boleh mengadakan perayaan maulid, baik hari kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maupun (hari kelahiran) selain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, karena sesungguhnya itu merupakan bid’ah yang diada-adakan dalam agama ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para al-Khulafa ar-Rasyidin serta yang lainnya dari kalangan sahabat adhiyallahu ‘anhuma, tidak pernah mengadakannya. Tidak pula para tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dari generasi-generasi yang mufadhdhalah (dipersaksikan keutamaannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari generasi-generasi yang lainnya). Padahal mereka rahimahumullah adalah orang-orang yang paling mengetahui tentang sunnah dan paling sempurna kecintaan dan mutaba’ah-nya (pengikutannya) terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  telah bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan suatu perkara dalam urusan kami (agama ini) yang bukan darinya maka tertolak.”2

Kemudian asy-Syaikh Ibnu Baz menyebutkan hadits-hadits lainnya dan ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya  dalam menjalani kehidupan ini.
(Majmu’ al-Fatawa, 1/178—182)

Adapun hukum mengucapkan selamat ulang tahun, pembahasannya sama dengan permasalahan pertama karena merupakan bagian dari perayaan. Tidak dibenarkan seseorang untuk turut andil dalam menyukseskan acara tersebut, seperti membantu menata ruang tempat acara atau yang lainnya, berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala:
“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”
(Al-Maidah: 2)

Bahkan sekadar hadir pun tidak diperbolehkan, berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala:
“Dan mereka hamba-hamba Allah yang beriman tidak menyaksikan/menghadiri perkara yang mungkar.”
(Al-Furqan: 72)

Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua sehingga kita terjaga dari amalan yang tidak diridhai oleh-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.

1 HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan yang lainnya, disahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (2/442) dan al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1134.

2 Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah.

sumber: http://asysyariah.com/bolehkah-mengunjungi-borobudur.html

========================================================================





Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’ yang saat itu diketuai1 oleh Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.



Ada saudara-saudara kami, kaum muslimin, yang menyelenggarakan perayaan ulang tahun untuk diri mereka dan anak-anak mereka. Apa sebenarnya pandangan Islam dalam masalah “ulang tahun” ini?

Jawab:

Asal dalam perkara ibadah adalah tauqif/berhenti di atas nash (dalil Al-Qur’an dan as-Sunnah). Oleh karena itu, seseorang tidak boleh melakukan ibadah yang tidak disyariatkan oleh Allah l, berdasar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang sahih:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam perkara kami ini padahal bukan bagian darinya maka amalan yang diada-adakan itu tertolak.”



Demikian pula sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ علَيْهَا أمرنا فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalan tersebut tertolak.”


Perayaan ulang tahun adalah satu macam ibadah yang diada-adakan dalam agama Allah subhanahu wata’ala. Dengan demikian, memperingati ulang tahun siapa pun tidak boleh dilakukan, bagaimanapun kedudukan atau perannya dalam kehidupan ini. Makhluk yang paling mulia dan rasul yang paling afdhal yaitu Muhammad ibnu Abdillah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pernah dihafal berita dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengadakan perayaan hari kelahirannya.



Tidak pula beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberi arahan kepada umatnya untuk merayakan dan memperingati ulang tahun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kemudian, orang-orang yang paling afdhal dari umat ini setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu para khalifah umat ini dan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada berita bahwa mereka memperingati ulang tahunnya atau ulang tahun salah seorang dari mereka, semoga Allah subhanahu wata’ala meridhai mereka semuanya.



Perlu selalu dicamkan bahwa kebaikan adalah dengan mengikuti petunjuk mereka dan mengikuti urusan yang lurus/tegak yang diperoleh dari madrasah Nabi mereka. Ditambah lagi, dalam bid’ah yang satu ini ada unsur tasyabbuh (meniru/menyerupai) perbuatan Yahudi dan Nasrani, serta orang-orang kafir selain mereka dalam hal perayaan-perayaan yang mereka ada-adakan. Wallahul musta’an

(Fatwa no. 2008, kitab Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’, 3/83—84)